Etika dan SDM
Etika dan SDM
Ketika persoalan yang dihadapi manajemen SDM bertambah banyak dan rumit, begitu pula dengan tekanan dan tantangan untuk bertindak dengan pantas. Persoalan etika mengajukan pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Persoalan timbul mengenai standar etika yang digunakan oleh para manajer dan karyawan, terutama standar etika di organisasi-organisasi bisnis. Tetapi, tampak bahwa persoalan tersebut cukup beralasan. Beberapa masalah yang paling sering terjadi adalah penipuan laporan pengeluaran, pembayaran atau penerimaan suapan dan pembayaran kembali, pemalsuan tanda tangan, dan kebohongan tentang cuti sakit.
Apakah Perilaku Etika Itu?
Etika berhubungan dengan apa yang "seharusnya" dilakukan. Bagi professional SDM, ini merupakan cara di mana manajer seharusnya bertindak sehubungan dengan persoalan sumber daya manusia yang ada. Akan tetapi, tidaklah selalu mudah untuk menentukan tindakan tertentu. Persoalan etika dalam manajemen, termasuk persoalan SDM, memiliki lima dimensi:
a. Konsekuensi yang diperpanjang: Keputusan etika mempunyai konsekuensi di luar keputusan itu sendiri. Menutup sebuah pabrik dan memindahkannya ke lokasi lain untuk menghindari penyatuan angkatan kerja memiliki pengaruh terhadap pekerja yang digunakan, keluarga mereka, masyarakat, dan bisnis lain.
b. Lebih dari satu alternatif: Ada berbagai alternatif dalam sebagian besar situasi pembuatan keputusan, sehingga persoalan tersebut mungkin melibatkan sejauh mana harus "membengkokkan" peraturan. Sebagai contoh, memutuskan seberapa banyak fleksibilitas yang diberikan untuk karyawan yang memiliki masalah keluarga, sementara mengingkari fleksibilitas serupa untuk karyawan yang lain, mungkin mengharuskan adanya pertimbangan atas berbagai alternatif.
c. Hasil yang berbaur: Keputusan yang memiliki dimensi etika sering melibatkan pertimbangan atas beberapa hasil yang bermanfaat dengan hasil yang negatif. Sebagai contoh, mempertahankan pekerjaan dari beberapa pekerja di sebuah pabrik mungkin menyebabkan hilangnya pekerjaan orang lain. Hasilnya akan menjadi suatu bauran dari hasil negatif dan positif untuk organisasi dan karyawan yang diberdayakan.
d. Konsekuensi yang tidak pasti: Konsekuensi dari keputusan yang memiliki dimensi etika sering kali tidak diketahui. Haruskah gaya hidup pribadi atau situasi keluarga seorang karyawan menyebabkan hilangnya peluang promosi walaupun karyawan tersebut jelas-jelas merupakan kandidat yang paling memenuhi syarat?
e. Pengaruh-pengaruh pribadi: Keputusan etika sering memengaruhi kehidupan pribadi para karyawan, keluarga mereka, dan orang-orang di sekitarnya. Memperkenankan pelanggan asing untuk menentukan bahwa mereka tidak akan menerima kunjungan penjualan dari staf wanita atau golongan minoritas mungkin dapat membantu hubungan bisnis jangka pendek, tetapi apa saja pengaruhnya terhadap para karyawan dan peluang karier di masa depan?
Komentar
Posting Komentar