INDIKATOR KEBERHASILAN BISNIS
INDIKATOR KEBERHASILAN BISNIS
Keberhasilan usaha pada hakikatnya adalah keberhasilan dari bisnis mencapai tujuannya. Suatu bisnis dikatakan berhasil bila mendapat laba, karena laba adalah tujuan dari orang melakukan bisnis.
A. Laba (Profitability)
Dari uraian di atas, tujuan bisnis adalah laba. Untuk itu maka dapat disederhanakan sebagai berikut:
Bisnis = fungsi (Laba)
Laba = Penjualan – Biaya
Laba maksimum = Penjualan Maksimum - Biaya Minimum
Dengan menggunakan paradigma di atas, dapat disusun parameter dan indikator keberhasilan suatu investasi, baik yang dilakukan oleh swasta, maupun pemerintah adalah sebagai berikut.
B. Produktivitas dan Efisiensi (Productivity and Efficiency).
Laba suatu usaha didapat melalui selisih antara pendapatan dengan biaya. Laba akan maksimum bila pendapatan dapat dimaksimumkan, sementara biaya diminimumkan.
Pendapatan suatu perusahaan berasal dari penjualan barang dan jasa yang dihasilkan/diproduksinya. Dengan demikian, maka besar kecilnya produktivitas suatu usaha sangat menentukan besar kecilnya produksi, yang mempengaruhi besar kecilnya penjualan, dan pada akhirnya menentukan besar kecilnya pendapatan, yang mempengaruhi besar kecilnya laba yang didapat oleh perusahaan yang bersangkutan.
Selanjutnya, biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memproduksi barang dan jasa yang menjadi bisnisnya tergantung dari tingkat efisiensi produksi yang dihasilkan. Semakin tinggi tingkat efisiensi, maka semakin rendah biaya produksi yang dikeluarkan, dan sebaliknya. Dengan demikian, maka efisiensi ini akan mempengaruhi biaya, yang pada akhirnya mempengaruhi pencapaian laba dari perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, secara mikro usaha keberhasilan investasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan sangat ditentukan oleh keberhasilan usaha tersebut membangun produktivitas dan efisiensinya. Kegagalan dalam mengembangkan dan memelihara kedua parameter di atas, akan menyebabkan gagalnya investasi mencapai tujuannya.
C. Daya Saing (Competitiveness).
Secara makro suatu bisnis berhadapan dengan pasar. Di setiap pasar biasanya ada pesaing yang melakukan usaha yang sama dan melayani konsumen yang sama pula. Oleh karena itu, suatu bisnis dikatakan berhasil, bila dapat mengalahkan pesaing, atau paling tidak masih bisa bertahan menghadapi pe saing. Dengan kata lain, untuk dapat bertahan dalam bisnisnya suatu perusahaan harus mempunyai daya saing. Daya saing adalah kemampuan atau ketangguhan dalam bersaing untuk merebut perhatian dan loyalitas konsumen. Perhatian dan loyalitas konsumen dapat direbut bila suatu perusahaan dapat memuaskan kebutuhan serta keinginan konsumennya.
Oleh karena itu, maka modal produktivitas dan efisiensi yang sudah dimiliki oleh perusahaan di tingkat mikro harus ditingkatkan menjadi daya saing untuk menghadapi pasar di tingkat makro. Tanpa memiliki daya saing yang memadai, sulit bagi perusahaan untuk dapat bertahan hidup di tengah persaingan yang semakin ketat saat ini.
Dengan demikian, hal di atas dapat disederhanakan sebagai berikut:
Laba = fungsi (Daya Saing)
Investasi yang berhasil adalah investasi yang memiliki daya saing yang tangguh. Daya saing dapat didefinisikan sebagai keunggulan dalam bersaing. untuk merebut pasar, atau konsumen. Hidup atau matinya usaha atau investasi sangat tergantung dari daya saing yang dimilikinya. Di era revolusi informasi ini, banyak sekali peluang timbulnya berbagai jenis produk dan pelayanan baru yang dapat menjadi andalan bisnis dalam masa yang tidak terlalu lama. Berbagai kemajuan di bidang ilmu dan teknologi telah mendorong munculnya gagasan baru, peluang baru, disertai semangat dan optimisme baru dan para pelaku bisnis dan vestasi. Oleh karena itu, maka inti dari daya saing yang harus dimiliki oleh perusahaan yang berinvestasi adalah kemampuannya dalam berinovasi untuk menciptakan dan merebut peluang (pasar) baru, yang bermunculan di masyarakat.
D. Kompetensi dan Etika Usaha (Competence and Ethics)
Dinamika kehidupan dan sejarah peradaban manusia mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang langgeng atau tetap di dunia ini. Artinya, kejayaan atau keunggulan maupun daya saing yang dimiliki oleh suatu perusahaan, atau suatu bangsa dapat bergeser atau digeser oleh perusahaan atau bangsa lain. Sebagai contoh misalnya pada era tahun 1970-an, bila membicarakan komputer, semua orang ingat IBM, karena perusahaan ini yang unggul di bidang itu. Kondisi ini berubah pada era 1980-an, dan berubah lagi pada 1990-an, dan terus berubah pada tahun 2000-an. Hal yang sama juga terjadi untuk produk lain, seperti produk elektronik, maupun produk investasi lainnya. Mobil misalnya, awalnya yang unggul adalah Amerika dan Eropa. Namun, berjalannya waktu dan zaman, keunggulan tersebut sudah mulai berpindah ke kawasan lain, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan misalnya. Dengan demikian, bila suatu bisnis ingin tetap bertahan di bi dangnya, maka bisnis tersebut harus bisa membangun dan mempertahankan daya saingnya, sehingga tidak digeser oleh perusahaan lain.
Suatu perusahaan, untuk dapat mempertahankan daya saingnya, maka kata kuncinya adalah bagaimana merebut hati konsumen, sehingga konsumen cen derung memilih produk perusahaan tersebut, dibandingkan produk sejenis dari perusahaan pesaing. Untuk dapat mempertahankan daya saing atau keunggulan yang sudah dimilikinya, maka perusahaan perlu merawatnya melalui dua hal penting, yaitu terus-menerus meningkatkan kompetensi (keunggulan) dan secara bersamaan menegakkan etika dalam berusaha.
Dengan demikian, hal di atas dapat disederhanakan sebagai berikut:
Laba = fungsi (Kompetensi, Etika)
Investasi yang berhasil adalah investasi yang memiliki kompetensi dan menegakkan etika bisnis dalam operasinya.
Komentar
Posting Komentar